Aku Mau Sembuh: Kecanduan Game dan Tidak Suka Makan Sayuran-Buah
Hari Jumat di pekan kedua selalu menjadi momen yang dinanti-nantikan oleh para santri di Rumah Ilmu. Itulah hari di mana kunjungan keluarga diizinkan, dan suasana pondok pesantren pun menjadi lebih hidup dengan tawa dan pelukan hangat. Pada hari itu, seorang wali santri mendekatiku dengan langkah hati-hati. Ia berbisik pelan, “Ustadz, saya mau minta tolong untuk menerapi anak saya. Saya melihat status WhatsApp Ustadz, yang menjelaskan bahwa Ustadz adalah terapis dan bisa menjadi wasilah untuk menyembuhkan beberapa keluhan penyakit fisik maupun emosional.”
“InshaAllah, Bapak, Ibu,” jawabku sambil tersenyum. “Apa keluhan yang dirasakan oleh ananda?”
Anak itu, sebut saja namanya Adik Salsa, ternyata punya masalah yang cukup umum di kalangan anak-anak masa kini. “Ananda ini tidak suka sayur, tidak suka buah, dan sering kali tantrum karena candu gadget. Permainan yang dimainkannya itu permainan anak dewasa, yaitu Roblox. Dia diajarin oleh kakaknya, Ustadz.”
Ya Rabb, aku terkejut mendengarnya. Masalah seperti ini bukan hanya soal fisik, tapi juga emosional dan spiritual. Aku pun mulai berkomunikasi dengan Adik Salsa, yang duduk di depanku dengan mata polos tapi penuh rasa penasaran.
“Adik, kenapa tidak suka buah?” tanyaku lembut.
“Gak enak, Ustadz,” jawabnya singkat.
“Kenapa tidak suka sayur?”
“Pahit,” katanya sambil mengernyitkan dahi.
“Adik suka main game?”
“Iya, seru, Ustadz!” Matanya berbinar.
“Kenapa suka? Diajarin sama kakak?”
“Iya.”
“Adik katanya suka marah-marah sama Ayah, Bunda, kalau minta main game?”
Ia mengangguk pelan, tapi aku melanjutkan, “Nggak boleh loh, Dek. Nanti Allah marah. Kalau Allah marah, nanti Adik tidak bisa lagi makan makanan kesukaan Adik. Nanti Adik sakit. Adik mau begitu?”
“Tidak, Ustadz,” jawabnya dengan suara kecil.
“Adik mau sembuh?” tanyaku lagi.
“Mau, Ustadz.”
“Oke, kalau gitu, Ustadz izin pegang kepalanya ya. Adik ikutin doa seperti yang Ustadz ucapkan.”
Sebelum terapi dimulai, aku minta Ayah, Bundanya menyiapkan buah dan makanan yang mengandung sayuran. Lalu, aku melanjutkan untuk terapi Adik Salsa seraya menuntunnya dengan doa SEFT—Spiritual Emotional Freedom Technique, sebuah metode sederhana yang menggabungkan kekuatan spiritual, energi tubuh, dan psikologi melalui ketukan lembut pada titik-titik meridian.
“Ya Allah, meskipun Adik Salsa tidak suka buah, adik ikhlas, adik ridho, adik pasrahkan kepada Engkau Yang Maha Memberikan Kesembuhan, Memberikan rasa suka, Maha Memberikan hati tenang.”
Aku lakukan tapping pada permasalahan pertama. Setelah itu, Ibunda mencoba menyuapkan buah pisang. Alhamdulillah, Adik Salsa memakannya dengan lahap! Allah ijabah niat baik dan tekad ananda untuk mau sembuh. Ayah dan Bunda pun gembira bercampur haru, melihat trauma menahun yang selama ini menyiksa keluarga mereka disembuhkan dengan wasilah metode terapi SEFT.
Berlanjut ke masalah kedua: tidak suka sayur.
“Ya Allah, meskipun Adik Salsa tidak suka sayur, adik ikhlas, adik ridho, adik pasrahkan kepada Engkau Yang Maha Memberikan Kesembuhan, Memberikan rasa suka, Maha Memberikan hati tenang.”
Aku lakukan tapping lagi, dan Ibunda menyuapkan sayur capcay. Alhamdulillah, Adik Salsa menyantapnya tanpa protes. Allah ijabah lagi! Ayah dan Bunda semakin terharu, melihat perubahan instan yang seperti mukjizat.
Selanjutnya, aku menyelesaikan permasalahan ketiga: candu game Roblox.
“Ya Allah, meskipun Adik Salsa candu game, adik ikhlas, adik ridho, adik pasrahkan kepada Engkau Yang Maha Memberikan Kesembuhan, Maha Memberikan hati tenang.”
Setelah tapping selesai, aku sodorkan film KABI (Kisah Para Nabi) di satu ponsel, dan Roblox di ponsel lain. MasyaAllah, Tabarakallah, Alhamdulillah! Adik Salsa memilih KABI dengan senyum lebar, merasa lebih nyaman dan damai. Allah ijabah niat baiknya. Ayah dan Bunda menangis haru, trauma yang selama ini membelenggu keluarga mereka lenyap begitu saja melalui SEFT.
Beberapa minggu kemudian, aku bertemu lagi dengan keluarga itu. Adik Salsa kini jadi anak yang ceria, doyan buah dan sayur, dan lebih suka belajar cerita nabi daripada game. Ia bahkan mulai mengajak kakaknya untuk ikut shalat berjamaah. Ayahnya bercerita, “Ustadz, SEFT ini seperti kunci ajaib. Bukan hanya menyembuhkan anak kami, tapi juga menyatukan keluarga kami kembali. Kami sekarang lebih dekat dengan Allah.”
Cerita Adik Salsa menyebar di kalangan santri dan wali. Banyak yang datang bertanya tentang SEFT, metode yang sederhana tapi powerful ini. SEFT mengajarkan kita bahwa penyembuhan sejatinya datang dari ikhlas, ridho, dan pasrah kepada Yang Maha Kuasa, sambil melepaskan beban emosional melalui sentuhan lembut. Tak peduli usia atau latar belakang, siapa pun bisa mencobanya, untuk mengatasi fobia, kecanduan, atau trauma. Ini bukan sihir, tapi wasilah dari Allah yang mengingatkan kita: dengan iman dan usaha, segala masalah bisa diatasi.
Semoga cerita ini menginspirasi kita semua untuk lebih mendekatkan diri pada-Nya dan mencoba SEFT sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih sehat dan bahagia.


