Aku Mau Sembuh: Ketagihan M*sturbasi
Di tengah derasnya hujan setelah shalat Ashar, aku duduk sejenak di sebuah pojok masjid, menunggu hujan reda. Suasana yang tenang memberikan kesempatan untuk merenung, menyerap pesan-pesan langit yang selalu menjadi petunjuk bagi setiap hati yang mencari kedamaian. Saat itu, seorang anak datang menghampiriku. Usianya kira-kira sekitar 15 tahun.
Sebutlah namanya Ajim. Dia mendekat, senyum malu terukir di wajahnya, tampak canggung dan ragu untuk berbicara. Aku mengamatinya sejenak, lalu bertanya dengan lembut, “Ada apa, Ajim? Kenapa senyum-senyum sendiri?”
Ajim menggeleng pelan, namun senyumannya semakin merekah. “Hmm… begini, Kak,” jawabnya terbata-bata. Aku menunggu, memberi ruang agar ia merasa nyaman untuk berbicara. “Ada apa, nak? Mau apa?” tanyaku.
Ajim tampak semakin gugup, tapi akhirnya dia mengumpulkan keberanian. “Saya… saya merasa kecanduan, Kak,” ujarnya pelan. Aku sedikit terkejut mendengar kalimat itu. “Kecanduan apa, Ajim?” tanyaku, mencoba mengerti lebih jauh.
Ajim menggaruk-garuk kepalanya, mencoba mencari kata-kata yang tepat. “Candu… c***i, Kak,” katanya pelan, matanya mulai menunduk. “Seringkali saya berlama-lama di kamar mandi, melakukan hal itu.”
Aku tertegun mendengarnya. Sesuatu yang jarang sekali dibicarakan oleh anak seusianya. Namun, aku tahu ini adalah kesempatan yang sangat berharga untuk membantu. Aku menatapnya dengan penuh perhatian dan berkata, “Boleh ceritakan lebih lanjut, Ajim? Bagaimana kamu bisa terjerumus ke hal seperti itu?”
Ajim menarik napas panjang, lalu mulai bercerita. “Waktu itu, saat liburan akhir tahun, teman saya mengenalkan saya pada sebuah film animasi Jepang. Katanya, film itu sangat bagus, menceritakan kisah romantis. Saat saya nonton, ternyata ada adegan-adegan dewasa yang nggak seharusnya saya tonton. Saya penasaran dan mulai mencari tahu lebih lanjut di internet. Lalu, saya menemukan film dewasa, dan dari sana saya terjerumus lebih dalam.”
Aku terdiam, mencoba memahami apa yang dirasakannya. “Terus bagaimana perasaanmu setelah menontonnya?” tanyaku. “Awalnya, saya merasa senang dan menikmati, Kak. Tapi setelah selesai, saya merasa sangat menyesal. Saya bingung kenapa bisa sampai seperti ini,” jawabnya dengan wajah penuh penyesalan.
Ajim melanjutkan ceritanya, “Di rumah, itu menjadi kebiasaan. Tapi, saya bawa kebiasaan buruk itu sampai di pondok. Setiap hari, saya melakukannya 2 hingga 3 kali, Kak. Pagi sebelum pelajaran, siang setelah makan, dan malam setelah mandi. Tapi setelah itu, tubuh saya terasa lelah, fokus belajar hilang, dan saya merasa kosong.”
Aku mencoba menenangkan Ajim, “Apakah orang tua kamu tahu tentang ini? Atau kamu pernah kepergok?” tanyaku.
Ajim menggelengkan kepalanya, “Orang tua saya tidak tahu, Kak. Ini baru saya ceritakan pada Kakak.”
Aku merasa prihatin, namun juga bertekad untuk membantunya. “Baik, Ajim. Kita akan coba terapi. Setelah shalat Subuh besok, kita bertemu lagi. Saya akan menggunakan metode SEFT untuk membantu kamu,” kataku dengan tegas namun penuh kasih.
Pagi hari berikutnya, dengan udara yang dingin, aku dan Ajim melakukan terapi di halaman masjid yang beralaskan tanah dan rumput. Suasana yang tenang dan hening memberi ruang bagi proses penyembuhan. Aku memimpin Ajim dalam sesi terapi SEFT, membimbingnya untuk melepaskan perasaan dan kebiasaan buruk yang telah lama menjeratnya. Akupu mengawalinya dengan bimbingan do’a.
“Ya Allah, meskipun aku suka mastrubasi, aku khlas, aku ridho, aku pasrahkan kepada Engkau Yang Maha Menyembuhkan dan Membuat hati tenang, dan aku syukuri”
Setelah sesi selesai, aku bertanya padanya, “Bagaimana, Ajim? Apa yang kamu rasakan?”
Ajim menarik napas panjang, matanya sedikit lebih tenang. “Saya merasa lebih tenang, Kak. Seperti ada yang terlepas dari diri saya.” Aku tersenyum, berharap terapi itu memberikan efek yang baik. “Alhamdulillah, semoga ini menjadi langkah pertama menuju perubahan yang lebih baik.”
Namun, keesokan harinya, Ajim datang lagi menghampiriku. Wajahnya tampak sedikit ragu. “Kak, saya melakukannya lagi… Tapi kali ini, saya nggak merasa apa-apa,” katanya dengan suara pelan.
Aku terkejut mendengarnya. “Kenapa kamu melakukannya lagi, Ajim?” tanyaku.
Ajim menunduk, sedikit malu. “Saya cuma mau buktikan apa yang Kakak bilang. Setelah terapi, saya nggak merasa apa-apa lagi. Rasanya nggak enak seperti dulu,” jawabnya, dengan mata yang mulai berbinar. “Saya ingin tahu apakah benar terapi ini bisa membantu saya.”
Aku merasa lega mendengarnya. “Alhamdulillah, Ajim. Itu berarti kamu sudah mulai merasakan perubahan. Ini adalah proses, dan kamu sudah di jalan yang benar.”
Ajim tersenyum, meskipun masih ada keraguan di matanya. “Saya nggak akan menyerah, Kak. Saya mau sembuh. Terima kasih, Kak, sudah membantu saya.”
“Semangat terus, Ajim. Ini baru awal. Jangan pernah ragu untuk berubah,” jawabku sambil memberi semangat.
Hari itu, di tengah hujan yang mulai reda, aku dan Ajim berjalan bersama dengan penuh harapan. Dalam setiap langkahnya, aku tahu bahwa proses penyembuhan itu tidak mudah, namun dengan tekad dan dukungan, Ajim akan menemukan jalan keluarnya. Dan mungkin, bagi sebagian orang, keberanian untuk mengakui kesalahan adalah langkah pertama menuju kesembuhan yang sejati.


