Aku Mau Sembuh: Santri Pecandu Rokok

terapi seft adiksi rokok

Aku Mau Sembuh: Santri Pecandu Rokok

Di suatu sore yang tenang, saat aku tengah duduk di sudut masjid, membaca bait-bait Ilahi, seorang anak mendekatiku. Aku menghentikan sejenak bacaan yang sedang ku munajatkan, lalu menoleh padanya. “Ada apa, nak?” tanyaku dengan lembut.


Dia menghela nafas panjang, seolah ada beban yang ingin dia sampaikan. “Hmmm… begini, Ustadz,” katanya, ragu-ragu. “Ustadz kan tahu, saya sering mendapat hukuman gundul. Ustadz juga sudah tahu apa yang menjadi kesalahan saya. Sepertinya saya candu rokok, Ustadz. Candu ini memang bukan dari pondok, saya mulai merokok jauh sebelum saya masuk pondok. Orang tua saya merokok, tapi mereka tidak tahu kalau saya juga merokok di luar rumah. Setiap kali saya izin keluar rumah, saya selalu sempatkan untuk merokok. Jadi, ketika di pondok, rasa ingin merokok itu sangat kuat, Ustadz. Terlebih setelah makan.”


Aku menatapnya dalam-dalam, lalu bertanya, “Apa yang kamu rasakan setelah makan?”
Dia menundukkan kepala, sejenak merenung, kemudian menjawab, “Saya merasa mulut saya asam, Ustadz, dan ada yang kurang. Obatnya adalah menghisap rokok.”


Aku menarik napas panjang, kemudian berkata, “Saya mengerti, nak. Tapi jika kamu ingin sembuh, kita harus bersama-sama mencari jalan keluar. Saya akan membantu kamu.”
Aku pun mengusulkan, “Baik, kalau begitu, kita coba terapi dengan pendekatan SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique). Insya Allah, ini bisa meredakan dan menyembuhkan candu rokok yang kamu rasakan.” Tapi akan lebih cepat jika kamu benar-benar bertekad ingin sembuh sepenuh hati.


Aku pun mulai terapi dengan do’a SET UP dan diikuti oleh anak tersebut.

” Ya Allah, meskipun aku candu rokok, aku Ikhlas, aku Ridho, aku Pasrahkan pada Engkau Yang Maha Menyembuhkan, Maha Memberikan Ketenangan, dan aku syukuri baik pada akhirnya”.

Setelah sekitar sepuluh menit terapi tapping, aku bertanya, “Apa yang kamu rasakan sekarang?”
Dia terdiam sejenak, kemudian menjawab dengan suara yang lebih tenang, “Rasanya kok agak tenang, Ustadz.”
“Alhamdulillah,” ujarku dengan penuh syukur.
“Namun, nak, ada satu hal yang harus kamu ingat,” lanjutku dengan serius. “Setelah makan malam nanti, apapun yang kamu rasakan, tolong sampaikan ke Ustadz. Jika rasa ingin merokok itu muncul lagi, datanglah ke Ustadz, jangan mencari tempat untuk merokok dan melanggar lagi. Kita akan terus berusaha bersama.”


Beberapa saat setelah makan malam, anak itu datang menemuiku. Aku pun bertanya, “Apa rasanya setelah makan tadi?”
Dia tersenyum, wajahnya terlihat lebih cerah, “Rasanya untuk menikmati rokok itu hilang, Ustadz. Setelah makan, malah rasanya biasa, tawar. Tidak ada lagi keinginan untuk merokok.”
“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah,” kataku dengan penuh rasa syukur, hatiku dipenuhi kebahagiaan melihat perubahan yang terjadi pada diri anak ini. “Ingat, nak, setiap langkah kecil menuju kebaikan adalah anugerah, dan setiap usaha yang kita lakukan pasti akan membuahkan hasil yang baik. Teruskan perjuanganmu.”


Dia mengangguk dengan tekad baru di matanya. Kami berdua berdoa, berharap agar Allah selalu memberikan kemudahan dalam setiap langkah hidupnya.